SELAMAT MEMPERINGATI HARI LAHIR PANCASILA 2026 - AYO KITA DUKUNG PROGRAM PRESIDEN RI PRABOWO SUBIANTO DAN WAKIL PRESIDEN RI GIBRAN RAKABUMING RAKA BERSAMA KABINET MERAH PUTIH SERTA MENDUKUNG PROGRAM VISI PEMERINTAHAN MUNAFRI-ALIYAH (MULIA) : MAKASSAR UNGGUL, INKLUSIF, AMAN DAN BERKELANJUTAN

Akhir Perjalanan Nurasyifa: Kerinduan 16 Tahun yang Dituntaskan Sebelum Berpulang

Berita Online Sulawesi.Com – Kisah hidup Nurasyifa Ramadhana, remaja yang dalam beberapa pekan terakhir menyita perhatian dan simpati publik Sulawesi Selatan, akhirnya ditutup dengan kedukaan yang mendalam.

Nurasyifa mengembuskan napas terakhirnya di RSUP Kemenkes CPI Makassar pada Rabu dini hari, 3 Juni 2026.

​Meski takdir berkata lain terhadap perjuangannya melawan penyakit, sebuah keajaiban kecil sempat hadir di penghujung usianya. Satu harapan terbesar yang selama belasan tahun ia simpan dalam diam, akhirnya terwujud. Nurasyifa berhasil bertemu dan memeluk ibu kandungnya.

​Terpisah Sejak Bayi di Atas Kapal Penumpang

​Perjalanan hidup Nurasyifa adalah sebuah narasi yang sulit dibaca tanpa rasa haru. Kisahnya dimulai pada tahun 2010, ketika ia ditinggalkan sejak bayi sesaat setelah dilahirkan di atas kapal penumpang rute Nunukan–Parepare.

​Bayi malang tersebut kemudian dirawat dan dibesarkan oleh sebuah keluarga di Bulukumba yang menerimanya dengan penuh kasih sayang. Namun, meski tumbuh di lingkungan yang mencintainya, ada satu ruang kosong di hati Nurasyifa yang tidak pernah benar-benar terisi. 

Selama 16 tahun, ia tumbuh tanpa pernah mengenal wajah perempuan yang telah melahirkannya.

​"Ia tidak meminta harta, bantuan, atau kemewahan. Kepada para relawan, Nurasyifa hanya menyampaikan satu permintaan sederhana: ingin bertemu dan memeluk ibunya."

​Ketika kondisi kesehatannya terus menurun hingga harus menjalani perawatan intensif, keinginan untuk bertemu sang ibu justru semakin menguat. Isyarat rindu itu memantik gerakan kemanusiaan di jagat maya. 

Kisahnya viral, memicu gerakan masif dari warganet, relawan, hingga tokoh masyarakat yang bahu-buhumencari keberadaan ibu kandung Nurasyifa.

​Pertemuan Penuh Haru di Ujung Usia

​Setelah melalui penelusuran yang rumit akibat berbagai keterbatasan, titik terang akhirnya muncul. Relawan berhasil melacak dan menghubungi ibu kandung Nurasyifa.

​Momen yang dinantikan itu pun tiba di ruang perawatan rumah sakit. Pertemuan antara ibu dan anak yang terpisah selama 16 tahun itu berlangsung dalam suasana yang menguras air mata. 

Tanpa ada tuntutan atau amarah atas masa lalu, Nurasyifa menyambut ibunya murni dengan kerinduan yang mendalam. Bagi publik, momen ini menjadi simbol kuat bahwa kasih sayang seorang anak mampu melampaui luka, jarak, dan waktu.

​Selamat Jalan, Nurasyifa

​Kini, perjuangan fisik Nurasyifa telah usai. Kepergiannya meninggalkan duka yang mendalam bagi keluarga, relawan, dan ribuan masyarakat yang selama ini mengawal kisahnya. Namun, ada keikhlasan yang menyertai kepergiannya, ia berpulang setelah menuntaskan misi terbesarnya di dunia.

​Nurasyifa Ramadhana akan selalu dikenang bukan sekadar sebagai remaja yang viral, melainkan sebagai simbol ketabahan, ketulusan, dan cinta tak bersyarat.

Kisahnya meninggalkan pesan kuat bagi siapapun bahwa di tengah hiruk-pikuk dunia, kebahagiaan tertinggi terkadang sesederhana sebuah pelukan yang telah lama dinantikan.

​Selamat jalan, Nurasyifa Ramadhana. Kerinduanmu telah menemukan jalannya, dan kisahmu akan terus hidup dalam ingatan. (*)

-------------

(Direpost dari Kosongsatunews.com/ Judul asli berita: Sebelum Berpulang, Nurasyifa Sempat Bertemu Ibu Kandungnya: Kisah yang Menggetarkan Hati Sulawesi Selatan. (Yusuf Buraerah)

Editor: Redaksi | Copyright © 2026