AYO KITA DUKUNG PROGRAM PRESIDEN RI PRABOWO SUBIANTO DAN WAKIL PRESIDEN RI GIBRAN RAKABUMING RAKA BERSAMA KABINET MERAH PUTIH SERTA MENDUKUNG PROGRAM VISI PEMERINTAHAN MUNAFRI-ALIYAH (MULIA) : MAKASSAR UNGGUL, INKLUSIF, AMAN DAN BERKELANJUTAN

Nakhoda Baru Semangat Baru: SMPN 49 Makassar Mantapkan Diri Hadapi Penilaian Adiwiyata Nasional


Berita Online Sulawesi, Makassar - Di bawah kepemimpinan kepala sekolah yang baru, Irdayani Djasman Pakiding, S.Pd., Gr., UPT SPF SMPN 49 Makassar terus bergerak cepat memantapkan berbagai persiapan guna menghadapi penilaian Program Adiwiyata Nasional.

Program bentukan pemerintah ini bertujuan untuk mewujudkan lembaga pendidikan yang peduli serta berbudaya lingkungan melalui tata kelola yang berkelanjutan.

​Persiapan dilakukan secara menyeluruh dan masif dengan melibatkan seluruh elemen sekolah, mulai dari kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, hingga para peserta didik.

Sinergi ini menjadi bukti nyata atas komitmen bersama dalam menciptakan atmosfer belajar yang hijau, bersih, sehat, dan nyaman.

​Berbagai inovasi serta pembenahan sarana dan prasarana ramah lingkungan kini menjadi fokus utama di lingkungan sekolah. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah pembuatan tempat sampah khusus botol plastik.

Inovasi ini sengaja dihadirkan untuk memicu sekaligus meningkatkan budaya memilah sampah sejak dari sumbernya di kalangan siswa.

​Tidak berhenti di situ, manajemen sekolah juga membenahi tempat pemilahan sampah yang kini dibagi secara spesifik menjadi tiga kategori: sampah organik, anorganik, dan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3).

Langkah ini diambil agar tata kelola sampah di sekolah menjadi jauh lebih efektif dan sejalan dengan prinsip pengurangan sampah (waste reduction).

​Dalam hal penanganan sampah organik, UPT SPF SMPN 49 Makassar mengembangkan program andalan bernama TEPA (Tempat Pengolahan Sampah Organik).

Tempat ini berfungsi sebagai pusat pengolahan limbah organik menjadi pupuk kompos yang kaya manfaat. Berbagai sisa pembuangan seperti kulit ubi, kulit pisang, sisa sayuran, hingga sisa makanan dikumpulkan secara berkala untuk diolah melalui metode pengomposan.

Selain menjaga kebersihan, proses ini sekaligus menjadi laboratorium pembelajaran nyata bagi siswa untuk memahami konsep ekonomi sirkular serta pemanfaatan limbah menjadi produk bernilai guna.

​Sekolah juga mengoptimalkan pembuatan pupuk kompos dari tumpukan daun kering yang berguguran di area sekolah. Daun-daun yang awalnya hanya dianggap sebagai pengotor halaman, kini disulap melalui mesin komposter hingga menghasilkan pupuk organik berkualitas tinggi.

Pupuk alami ini kemudian digunakan kembali untuk menyuburkan seluruh tanaman di lingkungan sekolah, menciptakan sebuah siklus ekologi mandiri yang mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia.

​Sebagai penguat sarana edukasi lingkungan, pembenahan juga menyasar fasilitas Green House. Fasilitas ini dimanfaatkan secara optimal sebagai pusat budidaya tanaman, pembibitan, dan ruang praktik pembelajaran lingkungan hidup.

Melalui Green House, siswa dapat mempelajari teknik perawatan vegetasi hingga pentingnya menjaga keanekaragaman hayati secara langsung.

​Di sudut lain, program TOSA (Tanaman Obat Sekolah) turut mendapatkan perhatian khusus. Berbagai jenis tanaman herbal ditata ulang agar lebih rapi, estetis, dan mudah dikenali.

TOSA kini berfungsi ganda, tidak hanya sebagai penghijauan tetapi juga sebagai media pembelajaran interaktif mengenai khasiat tanaman obat tradisional bagi kesehatan.

​Seluruh rangkaian agenda hijau ini dijalankan dengan semangat gotong royong. Setiap hari, para siswa tampak aktif berpartisipasi memilah sampah, memproses kompos, merawat tanaman di Green House dan TOSA, hingga menjaga kebersihan koridor sekolah.

Keterlibatan aktif ini menjadi indikator kuat bahwa budaya peduli lingkungan telah mengakar dan menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari di UPT SPF SMPN 49 Makassar.

​Melalui persiapan yang matang ini, UPT SPF SMPN 49 Makassar optimistis dapat memenuhi seluruh indikator penilaian Adiwiyata Nasional, khususnya pada aspek pengelolaan sarana ramah lingkungan, kegiatan partisipatif, dan pembiasaan perilaku pasca-didik. 

Namun lebih dari sekadar mengejar trofi penghargaan, pihak sekolah berkomitmen penuh untuk membentuk karakter generasi muda yang mencintai bumi dan mampu menerapkan gaya hidup berkelanjutan di masa depan. (*)



Editor: Redaksi | Copyright © 2026