Pemkot Makassar Libatkan Ahli Arborist Tata Vegetasi di Pedestrian Kajaolalido-Thamrin
Media Kita Semua Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar menegaskan bahwa proyek revitalisasi kawasan pedestrian Kajaolalido-Thamrin tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur fisik, melainkan juga berkomitmen kuat terhadap keberlanjutan ekosistem kota.
Melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Makassar yang dipimpin Dr. Helmy Budiman, Pemkot menggandeng tim ahli arborikultur untuk mengkaji, menata, dan merawat vegetasi di sepanjang area proyek secara terukur.
Penataan pedestrian sepanjang 427,9 meter di Jalan Kajaolalido dan 225 meter di Jalan Thamrin ini turut menyasar penataan puluhan aset utilitas, seperti tiang listrik, trafo, Penerangan Jalan Umum (PJU), hingga penataan 62 tiang fiber optik yang dipadatkan menjadi 17 tiang induk.
Di tengah perbaikan ini, sebanyak 80 pohon ketapang, sembilan pohon mahoni besar, dan dua pohon kecil yang masuk dalam area pengerjaan mendapat perhatian khusus agar pembangunan tidak merusak fungsi ekologis maupun keselamatan publik.
Ahli arborikultur sekaligus praktisi arsitektur lanskap, Rully Wijaya, menjelaskan bahwa penanganan pohon dilakukan berdasarkan karakter dan kesesuaian ruang tumbuh.
Menurutnya, pohon seperti ketapang kencana memiliki karakter akar yang sangat ekspansif sehingga kerap memicu konflik permanen dengan trotoar, jaringan drainase, dan utilitas tanah jika ditanam di area berinfrastruktur padat.
"Kalau akarnya kita potong, kemudian trotoarnya kita perbaiki, dalam waktu tertentu akar itu akan tumbuh lagi dan kembali membongkar trotoar. Solusinya bukan sekadar memotong akar atau membuang pohon, tetapi menggantinya dengan spesies yang akarnya lebih ramah dan adaptif, terutama pohon natif Sulawesi," ujar Rully, Jumat (25/9/2026).
Rully menambahkan, perencanaan pedestrian modern harus memperhitungkan ruang tumbuh akar di bawah tanah, termasuk penyediaan kecukupan air dan oksigen melalui penggunaan material beton berpori (porous concrete).
Pendekatan teknis ini penting agar akar tidak tumbuh merusak permukaan pedestrian di masa depan.
Selain konflik perakaran, tim arborist juga menaruh perhatian besar pada aspek keselamatan masyarakat, khususnya pada deretan pohon tua di jalur menuju Lapangan Karebosi.
Anggota tim arborist, Faris, menyebutkan ditemukannya pohon yang sudah berongga dengan kemiringan mencapai 40 derajat yang sangat berisiko tumbang sewaktu-waktu.
Guna menjaga fungsi penghijauan sekaligus nilai kultural, Pemkot Makassar merencanakan penggantian vegetasi dengan ratusan pohon endemik atau natif Sulawesi yang memiliki sistem perakaran lebih mudah dikendalikan, seperti menggunakan root barrier.
Beberapa jenis pohon yang direkomendasikan antara lain:
Pohon Bitti (Vitex cofassus): Tanaman khas Sulawesi Selatan yang memiliki nilai sejarah tinggi sebagai bahan utama pembuat kapal pinisi.
Pohon Padiasa (Kleinhovia hospita): Vegetasi lokal yang kaya manfaat ekologis.
Pohon Jelatri/Jati Tri (Elaeocarpus): Memiliki karakter tajuk dan perakaran yang sesuai untuk ruang perkotaan.
Pohon Asam: Menjadi opsi tambahan untuk titik-titik kawasan yang memiliki ruang tumbuh lebih luas.
Langkah kolaboratif antara perencana konstruksi, desainer lanskap, dan ahli arborist ini diharapkan melahirkan kawasan pedestrian Kajaolalido-Thamrin yang tidak hanya ramah dan nyaman bagi pejalan kaki, tetapi juga aman serta berwawasan lingkungan jangka panjang. (*)







