OPINI: Kebijakan Seminggu Siswa PJJ Mengingatkan Kembali Ke Zaman Covid
![]() |
| Foto Ilustrasi Karikatur (@ruri) |
Media Kita Semua Mengantisipasi kondisi ketersediaan dan kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi di Kota Makassar kini untuk sementara mobilitas fisik dunia pendidikan di stop.
Melalui Surat Edaran Dinas Pendidikan Kota Makassar Nomor: 400.3.5/17/IX/2026, seluruh aktivitas tatap muka jenjang TK, SD, hingga SMP mendadak dihentikan total dan dialihkan ke mode daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) mulai 12 hingga 19 September 2026.
Keputusan drastis ini diambil demi menjaga kontinuitas pembelajaran di tengah dampak BBM terhadap mobilitas dan akses transportasi siswa, guru, tenaga kependidikan dan orang tua siswa.
Langkah darurat Pemerintah Kota Makassar melalui Dinas Pendidikan ini sontak melempar memori penulis kembali ke masa kelam pandemi COVID-19.
Meski wabah telah lama usai, metode sekolah dari rumah kembali dipaksa menjadi tameng utama saat berhadapan dengan ancaman problematik.
Guru dan tenaga kependidikan pun diinstruksikan untuk memutar otak, mengoptimalkan berbagai platform digital demi menjamin materi tetap tersampaikan.
Namun, di balik fleksibilitas akses digital yang dipuji sebagian pihak, "trauma" sekolah online kembali membayangi penulis dan sebagian orang tua lainnya.
Kebijakan serba mendadak ini bisa dinilai menyimpan bom waktu yang siap menggerogoti kualitas tumbuh kembang anak dan bisa berdampak pada kualitas pembelajaran di sekolah.
Sistem pembelajaran jarak jauh dari rumah memang memberikan kesempatan belajar yang lebih fleksibel bagi siswa.
Belajar daring memungkinkan siswa untuk mengakses materi secara digital, berinteraksi dengan guru melalui platform online, mengerjakan tugas secara mandiri serta aktivitas siswa di rumah bisa terpantau dengan baik oleh orang tua.
Namun di sisi lain, implementasi pendidikan daring menghadapi sejumlah tantangan seperti infrastruktur teknologi yang tidak merata, keterbatasan jaringan internet atau perangkat belajar, dapat menghambat akses siswa terhadap materi pembelajaran.
Interaksi sosial yang terbatas juga mengurangi pengalaman belajar yang bersifat kolaboratif dan menghambat pembentukan hubungan sosial antar siswa. Kualitas materi pembelajaran daring yang bervariasi juga memengaruhi efektivitas pembelajaran.
Lantaran itu, proses belajar mengajar secara online juga berpotensi memberikan dampak negatif pada siswa, di antaranya:
Ancaman Degradasi Akademik dan Ketergantungan
Keterbatasan interaksi saat belajar secara online bisa membuat anak kesulitan untuk memahami penjelasan yang dipaparkan oleh guru.
Pembelajaran jarak jauh terbukti memangkas daya serap siswa terhadap materi secara signifikan. Terlalu lama di rumah juga memicu sifat malas dan ketergantungan akut anak kepada orang tua.
Terpapar gadget lebih sering
Sekolah online mengharuskan anak untuk lebih sering menggunakan gadget. Padahal, screen time atau waktu menggunakan gadget yang dianjurkan pada anak usia 2–5 tahun hanya 1 jam, sedangkan anak usia sekolah dasar hanya 2 jam.
Minim bersosialisasi
Selama menjalani sekolah di rumah, anak jadi tidak bisa bermain bebas di sekolah bersama teman-temannya. Hilangnya interaksi fisik dengan kawan sebaya mengancam kemampuan bersosialisasi, berisiko membentuk pribadi yang introvert dan kurang percaya diri.
Berisiko tinggi menjadi pelampiasan stres orang tua
Beban mendampingi anak belajar daring di tengah ketidakpastian berpotensi meningkatkan stres para orang tua, yang rentan menjadikan anak sebagai pelampiasan emosi di rumah.
Kebijakan seminggu "mengurung" siswa di rumah ini kini memicu pertanyaan besar.
Apakah model pendidikan digital (online) adalah solusi adaptif satu-satunya, atau sekadar jalan pintas yang mengorbankan kualitas pembelajaran serta mental generasi muda demi menjaga ketersediaan energi BBM?.
*******
Penulis: Rusli Rifar (Pemred Berita Online Sulawesi.com)









