Dari Kalah Kotak Kosong hingga Jadi Wali Kota: Kisah "Jatuh Bangun" Appi di Hadapan Mahasiswa FH Unhas
Berita Online Sulawesi, Makassar - Wali Kota Makassar, Munafri Arifuddin, membagikan kisah perjalanan hidupnya yang penuh lika-liku dalam kuliah umum di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas), Jumat (22/5/2026).
Di hadapan ratusan mahasiswa, pria yang akrab disapa Appi ini mengupas tuntas transformasinya dari seorang mahasiswa dengan keterbatasan ekonomi, pengusaha, hingga menjadi orang nomor satu di Kota Daeng setelah melewati serangkaian kegagalan politik yang monumental.
Dalam kuliah umum bertema “Sinergi Pemerintahan, Hukum dan Entrepreneurship dalam Menciptakan Inovasi Pemerintahan yang Berdampak di Kota Makassar”, alumnus FH Unhas ini tidak hanya berbicara soal teori birokrasi, melainkan memberikan suntikan motivasi nyata tentang arti sebuah resiliensi (daya bangkit).
Momen paling riuh dalam kuliah umum tersebut adalah saat Appi dengan lapang dada menceritakan rekam jejak politiknya. Ia tercatat sebagai salah satu figur unik yang bertarung dalam tiga kali pilkada hanya dalam rentang waktu enam tahun, sebelum akhirnya memenangkan Pilkada Makassar 2024 dengan raihan 54% suara bersama Aliyah Mustika Ilham.
"Tahun 2018 saya maju sebagai calon Wali Kota Makassar. Lawannya kotak kosong, dan saya kalah oleh kotak kosong," ungkap Appi yang langsung disambut riuh para peserta.
Ia mengenang betapa beratnya beban psikologis pasca-kekalahan langka tersebut. "Selama tujuh bulan saya tidak pernah ke warung kopi. Bukan karena kalahnya, tapi malunya. Setiap ada orang berbisik, saya merasa dibicarakan sebagai orang yang kalah dari kotak kosong," kenangnya jujur.
Tak berhenti di sana, ujian kembali datang pada Pilkada 2020 saat ia maju bersama Rahman Bando. Di tengah keterbatasan kampanye akibat pandemi COVID-19, Appi harus kembali menelan pil pahit. "Tahun 2020 saya kalah lagi," ujarnya.
Namun, konsistensi membuktikan hasilnya di tahun 2024. Kepada para mahasiswa, Ketua Golkar Makassar ini menitipkan pesan kuat tentang perjuangan.
"Tidak ada perjuangan yang dilakukan sampai tuntas yang berakhir sia-sia. Berjuanglah sampai tuntas untuk mendapatkan apa yang kalian inginkan. Kalau kita mendapatkan mimpi kita, kita tidak akan pernah lelah menjalaninya karena yang kita dapat adalah mimpi terbaik kita," tegasnya.
Sebagai pemimpin kota dengan pertumbuhan ekonomi yang impresif—menyentuh angka 5,3% pada tahun 2025 dan berada di atas rata-rata nasional serta Sulawesi Selatan—Appi menekankan bahwa Makassar sangat membutuhkan ledakan jumlah wirausahawan baru. Terlebih, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Makassar saat ini masuk dalam jajaran tujuh besar nasional.
"Kota ini tumbuh dari perdagangan dan jasa. Karena itu kita membutuhkan lebih banyak entrepreneur, lebih banyak pengusaha," jelas Appi. Ia menyayangkan rasio entrepreneur di Indonesia yang masih di bawah 4% dari total 280 juta penduduk.
Menurutnya, ilmu hukum yang sedang diemban oleh para mahasiswa di FH Unhas adalah modal dasar (basic) yang sangat kuat untuk terjun ke dunia usaha, bukan sekadar untuk menjadi penegak hukum.
"Hukum menjadi rambu-rambu kita dalam melangkah, mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Pemerintahan membutuhkan inovasi untuk pelayanan publik, hukum menjamin inovasi tetap berada dalam koridor aturan, dan entrepreneurship membawa cara berpikir kreatif, cepat, serta solutif. Inilah yang disebut sinergi," paparnya.
Masa Muda Penuh Keterbatasan & Keberhasilan Bersama PSM
Di sesi lain, Appi memotivasi mahasiswa untuk tidak menjadikan keterbatasan ekonomi sebagai alasan untuk menyerah. Ia menceritakan masa kuliahnya yang mandiri, di mana orang tuanya hanya mampu membiayai kuliah pada semester pertama. Sisanya, Appi pontang-panting membiayai kuliahnya sendiri dengan bekerja sebagai penyiar radio.
Keterbatasan itu justru menempa dirinya. Meski sempat terkendala kemampuan bahasa Inggris saat mulai terjun ke dunia sepak bola profesional, ketekunannya belajar membawa Appi dipercaya memimpin berbagai perusahaan besar, hingga ditunjuk menjadi perwakilan kehormatan Republik Kroasia di Indonesia.
Pengalaman kepemimpinannya juga teruji saat didapuk menakhodai klub sepak bola kebanggaan Sulawesi Selatan, PSM Makassar, pada tahun 2016. Kala itu, PSM sedang terpuruk akibat sanksi FIFA. Melalui perombakan total pada struktur manajemen, pelatih, hingga pemilihan pemain asing, Appi membawa Juku Eja bangkit.
"Tahun 2019, setelah 19 tahun tanpa trofi, PSM akhirnya juara Piala Indonesia," beber Appi yang disambut tepuk tangan bangga.
Di akhir pemaparannya, Wali Kota Makassar ini mengajak seluruh civitas akademika FH Unhas untuk mengambil peran strategis dalam pembangunan daerah. "Mari jadikan Fakultas Hukum Unhas sebagai motor penggerak lahirnya kebijakan publik yang cerdas, berkeadilan, dan berpihak pada rakyat," pungkasnya. (*)








