Air Mata di Balik Kisah Perjuangan Guru Tito, dari Perantau Tangguh hingga Menjadi Kepala Sekolah
Laode Imam Sutrisno / Tito di Ujung Pandang tahun 1996 (Foto AI)
Berita Online Sulawesi, Makassar — Di balik ketegasan dan dedikasinya memimpin sekolah hari ini, tersimpan sebuah lembaran masa lalu yang penuh dengan air mata, keringat, dan perjuangan tanpa lelah.
Ini adalah kisah tentang Laode Imam Sutrisno atau akrab di sapa Pak Tito kepala SMPN 12 Makassar yang harus melewati badai kehidupan yang begitu hebat di tanah perantauan sebelum akhirnya bisa berdiri tegak seperti sekarang.
Kisah ini dimulai ketika Tito muda harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya meninggalkan kampung halamannya di Pulau Buton.
Dengan tas sederhana dan tekad yang bulat, ia melangkah pergi menuju Kota Makassar yang kala itu masih bernama Ujung Pandang.
Namun, keberangkatannya diiringi oleh beban batin yang teramat sangat berat. Di saat ia harus mengadu nasib demi masa depan. Sang ayah tercinta sedang terbaring lemah, berjuang melawan sakit keras di kampung halaman.
Setiap jengkal langkah Tito di tanah rantau selalu dibayangi oleh rasa khawatir dan rindu yang mendalam pada sang ayah.
Setibanya di Ujung Pandang, Tito resmi memulai perjalanannya sebagai mahasiswa di Universitas Hasanuddin (Unhas) untuk meraih gelar sarjana muda.
Di kota metropolitan ini, kehidupan tidak berjalan mudah bagi seorang perantau miskin. Demi menyambung hidup dan membiayai kuliahnya, Tito muda tidak pernah memilih-milih pekerjaan.
"Apa saja dikerjakan, yang penting halal dan bisa bertahan hidup di kota orang," kenangnya.
Hari-hari Tito pun terpaksa diisi dengan ritme yang sangat padat dan melelahkan dengan bekerja serabutan dan melakoni berbagai pekerjaan kasar demi sesuap nasi. Ia pula sempat bergabung dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Ia dipercayakan mengelola administrasi proyek pemerintah di kepulauan Selayar.
Termasuk mencari tambahan penghasilan sekaligus menyalurkan bakat komunikasinya dengan menjadi penyiar melalui radio Venus. Suaranya yang khas sempat menghiasi udara Kota Makassar. Oleh pendengar radio Venus ia dikenal angkasawan bernama Ivan.
Misteri Takdir: Dari Palu Dialihkan ke SMP 38 Makassar
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1996, Tito resmi menamatkan kuliahnya di jurusan profesi guru Unhas. Sebagai lulusan ikatan dinas pemerintah, takdir awal menggariskan bahwa ia harus berangkat ke Sulawesi Tengah untuk mengajar di SMP Negeri 4 Palu.
Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Karena adanya beberapa berkas administrasi yang belum lengkap, keberangkatan Tito ke Palu terpaksa tertunda. Selama empat bulan lamanya, ia berada dalam ketidakpastian, menunggu di Makassar dengan sisa-sisa energi perjuangannya.
Siapa sangka, penundaan yang sempat mengecewakan itu justru menjadi titik balik takdirnya. Ketika Surat Keputusan (SK) penempatan resmi keluar, nama Tito tidak lagi tertera untuk daerah Palu. Berdasarkan SK terbaru tersebut, ia resmi ditempatkan untuk mengajar di SMP 38 Makassar.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Tito muda yang dulu luntang-lantung merantau di Ujung Pandang, menahan perih jauh dari orang tua yang sakit, telah bertransformasi menjadi seorang kepala sekolah yang bijaksana. Tito diketahui saat ini tengah menempuh studi S3 di Unhas.
Pengalaman pahit masa lalu itulah yang menempa karakternya menjadi sosok pemimpin yang humanis, tangguh, dan selalu peduli pada sesama dan nasib pendidikan anak-anak bangsanya. (@ruri)







