Air Mata di Balik Kisah Perjuangan Guru Tito, dari Perantau Tangguh hingga Menjadi Kepala Sekolah
Laode Imam Sutrisno/Tito muda di Ujung Pandang tahun 1990-an (Foto: AI)
Berita Online Sulawesi, Makassar — Di balik ketegasan dan dedikasinya memimpin sekolah hari ini, tersimpan sebuah lembaran masa lalu yang penuh dengan air mata, keringat, dan perjuangan tanpa lelah.
Ini adalah kisah tentang Laode Imam Sutrisno atau akrab di sapa Pak Tito Kepala UPT SPF SMPN 12 Makassar yang harus melewati badai kehidupan yang begitu hebat di tanah perantauan sebelum akhirnya bisa berdiri tegak seperti sekarang.
Kisah ini dimulai ketika Tito muda harus mengambil keputusan terberat dalam hidupnya meninggalkan kampung halamannya di Pulau Buton.
Dengan tas sederhana dan tekad yang bulat, ia melangkah pergi menuju Kota Makassar yang kala itu masih bernama Ujung Pandang.
Namun, keberangkatannya diiringi oleh beban batin yang teramat berat. Di saat Tito muda harus mengadu nasib demi masa depan. Sang ayah tercinta sedang terbaring lemah, berjuang melawan sakit di kampung halaman.
Setiap jengkal langkahnya di tanah rantau selalu dibayangi oleh rasa khawatir dan rindu yang mendalam pada sang ayah.
Setibanya di Ujung Pandang, Tito resmi memulai perjalanannya sebagai mahasiswa Progam Diploma 3 MIPA di Universitas Hasanuddin (Unhas) usai lulus tes UMPTN dan mendapatkan beasiswa senilai Rp25.000 tiap bulan.
Di kota metropolitan ini, kehidupan tidak berjalan mudah bagi seorang anak rantau. Demi menyambung hidup dan membiayai kuliahnya, Tito muda tidak pernah memilih-milih pekerjaan.
"Apa saja dikerjakan, yang penting halal dan bisa bertahan hidup di kota orang," kenangnya.
Hari-hari Tito pun terpaksa diisi dengan ritme yang sangat padat dan melelahkan dengan bekerja serabutan dan melakoni berbagai pekerjaan demi sesuap nasi sekaligus membantu biaya kuliah adik-adiknya.
Untuk menambah penghasilan, Tito harus menjadi tentor di sejumlah lembaga bimbel, menjadi translater tugas kuliah mahasiswa S1 dan S2 Unhas yang berdomisili di sekitar Tamalanrea hingga menggeluti tukang ketik skripsi mahasiswa.
Tidak berhenti di situ, Tito juga bergabung dengan LSM pengembangan masyarakat agro maritim untuk mengelola administrasi proyek Program Air Bersih dan Penyehatan Lingkungan (ABPL) di 3 kelurahan di Kabupaten Bulukumba.
Termasuk mencari tambahan penghasilan sekaligus menyalurkan bakat komunikasinya dengan menjadi penyiar melalui radio Venus.
Suaranya yang khas sempat menghiasi udara Kota Makassar, oleh pendengar radio Venus kala itu dikenal angkasawan bernama Ivan.
Kepala UPT SPF SMPN 12 Makassar
Misteri Takdir: Dari Palu Dialihkan ke SMP 28 Makassar
Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil. Pada tahun 1993, Tito resmi menamatkan kuliahnya di Unhas. Sebagai lulusan ikatan dinas pemerintah, takdir awal menggariskan bahwa ia harus berangkat ke Sulawesi Tengah untuk penempatan di salah satu SMA Negeri Palu.
Namun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan. Karena adanya beberapa berkas administrasi yang belum lengkap, keberangkatan Tito ke Palu terpaksa tertunda.
Selama beberapa bulan lamanya, ia berada dalam ketidakpastian, menunggu di Makassar dengan sisa-sisa energi perjuangannya.
Siapa sangka, penundaan yang sempat mengecewakan itu justru menjadi titik balik takdirnya. Ketika Surat Keputusan (SK) penempatan resmi keluar, nama Tito tidak lagi tertera untuk daerah Palu.
Berdasarkan SK terbaru 1 Maret 1994, Tito ditempatkan untuk mengajar di SMPN 28 Makassar di Barrang Lompo. Disekolah ini, Tito mengajar hampir satu dekade atau hingga tahun 2003.
Kini, setelah bertahun-tahun berlalu, Tito muda yang dulu luntang-lantung merantau di Ujung Pandang, menahan perih jauh dari orang tua dan keluarga, telah bertransformasi menjadi seorang kepala sekolah yang bijaksana. Bahkan kini Tito diketahui tengah menempuh studi program doktor (S3) di Unhas.
Pengalaman pahit masa lalu itulah yang menempa karakternya menjadi sosok pemimpin yang humanis, tangguh, dan selalu peduli pada sesama serta nasib pendidikan anak-anak bangsanya. (@ruri)
Editor: Rusli Rifar









