AYO KITA DUKUNG PROGRAM PRESIDEN RI PRABOWO SUBIANTO DAN WAKIL PRESIDEN RI GIBRAN RAKABUMING RAKA BERSAMA KABINET MERAH PUTIH SERTA MENDUKUNG PROGRAM VISI PEMERINTAHAN MUNAFRI-ALIYAH (MULIA) : MAKASSAR UNGGUL, INKLUSIF, AMAN DAN BERKELANJUTAN

Pesan Menyentuh Kepala SMPN 27 Makassar Yang Sarat Akan Makna Spiritual: Menua Adalah Anugerah

Ilustrasi gambar handphone 

Makassar, Berita Online Sulawesi.Com – Masa tua sering kali dipandang sebagai fase senja yang penuh dengan keterbatasan.

Namun, sejatinya fase transisi ini merupakan babak baru kehidupan di mana perubahan fisik dan psikologis bukanlah penghalang untuk tetap hidup sehat, produktif, dan bermakna.

​Menjadi tua adalah sebuah proses alami yang membawa hak bagi setiap individu untuk terus merasakan kebahagiaan. 

Meski raga tak lagi sebugar dulu, potensi untuk berkontribusi dan menikmati hasil jerih payah selama bertahun-tahun tetap terbuka lebar.

Filosofi tentang pentingnya menikmati masa tua ini baru saja dibagikan oleh sosok pendidik senior Kota Makassar.

​Pesan Menyentuh dari Sang Kepala Sekolah

Kepala SMPN 27 Makassar, H. Nurdin, S.Pd SH M.Pd membagikan refleksi mendalam mengenai fase kehidupan ini melalui media sosialnya. 

Dalam sebuah unggahan story WhatsApp yang terpantau pada Kamis (9/5) pukul 15.02 WITA, guru Bahasa Inggris tersebut menuliskan kalimat singkat yang sarat akan makna spiritual dan optimisme.

​"Tidak semua orang punya kesempatan menjadi tua, maka nikmatilah masa tuamu dengan jalan-jalan, banyak bersedekah dan berinfak, serta berdoa untuk kesehatan." demikian kalimat yang dinamai embun pagi 469.

Tangkapan layar story yang diunggah Kepala SMPN 27 Makassar, Sabtu (9/5)











Tiga Pilar Menikmati Masa Tua

​Pesan yang disampaikan H. Nurdin merangkum tiga pilar utama dalam menghadapi transisi kehidupan bagi para lansia atau mereka yang memasuki masa purnabakti:

​Rekreasi dan Mobilitas: "Jalan-jalan" bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan cara menjaga kesehatan mental dan tetap terhubung dengan dunia luar agar pikiran tetap segar.

​Investasi Akhirat: "Bersedekah dan berinfak" menunjukkan bahwa produktivitas di masa tua tidak lagi diukur dari materi yang didapat, melainkan dari seberapa banyak manfaat yang bisa diberikan kepada sesama.

​Spritualitas dan Kesehatan: "Berdoa" menjadi kekuatan batin untuk menerima perubahan fisik dengan ikhlas sembari memohon perlindungan dan kualitas hidup yang baik.

​Memaknai Transisi

​Fase transisi menuju masa tua memang menuntut adaptasi terhadap perubahan kondisi tubuh dan peran sosial. 

Namun, seperti yang tersirat dalam narasi H. Nurdin, masa tua bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan langka yang harus disyukuri.

​Banyak orang yang memimpikan masa tua namun tidak mendapatkannya. Oleh karena itu, menjalaninya dengan penuh syukur, kepedulian sosial, dan menjaga kesehatan adalah cara terbaik untuk menghormati kehidupan itu sendiri. 

Pesan dari seorang putra Kajang Bulukumba ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menua adalah hak istimewa, dan menikmatinya adalah sebuah seni. (*)

Editor: Redaksi | Copyright © 2026