OPINI: Menulis Sebuah Keterampilan yang Terabaikan di Tengah Tugas Mengajar
Berita Online Sulawesi.Com - Di banyak ruang kelas hari ini, kita menyaksikan paradoks yang menarik sekaligus ironis. Guru-guru begitu fasih berbicara di depan kelas, piawai menjelaskan konsep rumit dengan bahasa lisan yang mengalir, dan cekatan menyusun RPP serta berbagai dokumen administratif lain yang menuntut ketelitian tinggi.
Namun, ketika diminta menulis sebuah refleksi sederhana, esai pendek, atau narasi pengalaman mengajar, tidak sedikit yang mendadak canggung, ragu, bahkan merasa terintimidasi oleh layar kosong dan kursor yang berkedip.
Menulis, keterampilan yang sejatinya dekat dengan dunia pendidikan, justru sering tersisih dan dianggap sebagai kemampuan tambahan yang tidak mendesak.
Padahal, menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata, melainkan alat refleksi yang memungkinkan guru berdialog dengan dirinya sendiri, sarana ekspresi yang memberi ruang pada emosi dan gagasan, serta fondasi literasi yang menopang seluruh proses belajar.
Ketika guru jarang menulis atau tampak enggan melakukannya, siswa secara tidak langsung menangkap pesan tersirat bahwa menulis adalah sesuatu yang sulit, membosankan, atau bahkan tidak terlalu penting.
Dalam konteks era digital, ketika komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas menjadi kompetensi abad ke-21, menulis justru semakin relevan. Ia hadir dalam berbagai rupa, dari email profesional, unggahan blog, hingga narasi singkat di media sosial yang mampu memengaruhi banyak orang.
Jika guru tidak nyaman dengan dunia tulis-menulis, bagaimana mungkin mereka dapat menuntun siswa menjelajahi lanskap literasi yang kian luas dan kompleks.
Hambatan pertama yang kerap mengemuka adalah minimnya motivasi internal. Bagi sebagian guru, menulis dipersepsikan sebagai tugas tambahan di luar identitas profesional mereka sebagai pengajar.
Aktivitas ini tidak selalu terhubung langsung dengan penilaian kinerja atau kenaikan pangkat, sehingga mudah dikesampingkan di tengah padatnya rutinitas. Tulisan yang dihasilkan pun sering kali berakhir di folder pribadi, jarang diapresiasi, apalagi dijadikan referensi oleh rekan sejawat.
Ketika upaya menulis tidak mendapatkan umpan balik yang bermakna, wajar jika semangat perlahan meredup. Menulis kemudian terasa seperti kerja sunyi yang tidak bergaung, padahal setiap kata yang ditulis sejatinya menyimpan potensi untuk menginspirasi dan memantik diskusi.
Tantangan berikutnya berkaitan dengan kurangnya kreativitas dan kepercayaan diri. Banyak guru terjebak dalam perfeksionisme yang membuat mereka takut memulai. Kekhawatiran akan tata bahasa yang kurang sempurna, alur yang dianggap tidak menarik, atau ide yang dirasa “biasa saja” menjadi penghalang terbesar sebelum satu kalimat pun tercipta.
Minimnya eksposur terhadap ragam gaya menulis memperparah situasi ini. Menulis sering dipersempit maknanya sebagai laporan formal atau artikel ilmiah yang kaku, sementara bentuk-bentuk lain seperti esai reflektif, opini populer, cerita pendek, atau bahkan skrip video jarang dieksplorasi.
Akibatnya, menulis terasa jauh dari pengalaman personal dan kehilangan daya main yang seharusnya membuatnya menyenangkan.
Waktu yang terfragmentasi menjadi penghambat ketiga yang tidak kalah signifikan. Beban administratif, tanggung jawab ekstrakurikuler, serta tuntutan sosial di lingkungan sekolah menyita energi mental dan emosional guru.
Di sela-sela itu, menulis sering dianggap “remeh” dan mudah ditunda. Padahal, jika dipandang dari sudut lain, menulis justru bisa menjadi bentuk katarsis dan manajemen stres.
Dengan menuliskan kegelisahan, kegembiraan, atau kelelahan, guru dapat merawat kesehatan batin mereka sendiri. Seperti sebuah refleksi yang patut direnungkan, “Guru bukan tidak punya ide. Mereka hanya belum punya wadah yang mengundang mereka untuk berbicara—lewat tulisan.”
Untuk mengubah keadaan tersebut, diperlukan aksi nyata berupa pembangunan ekosistem menulis yang hidup dan selaras dengan dunia digital. Program menulis dengan tema yang menarik dan relevan dapat menjadi pintu masuk yang ramah.
Tema-tema personal seperti “Cerita di Balik Kelas”, “Ketika Siswa Mengajarkanku Sesuatu”, atau “Impian Pendidikan di Kampungku” mengundang guru untuk menulis dari hati, bukan dari kewajiban.
Ketika tulisan lahir dari pengalaman autentik, prosesnya terasa lebih ringan dan hasilnya lebih bermakna. Guru tidak lagi berusaha memenuhi standar abstrak, melainkan berbagi kisah yang dekat dengan realitas mereka sendiri.
Publikasi melalui media digital menjadi elemen penting berikutnya. Blog sekolah, channel YouTube, atau akun Instagram bertajuk “Suara Guru SMK” misalnya, dapat berfungsi sebagai etalase karya sekaligus ruang dialog.
Format pendek seperti microblog, thread di Twitter/X, atau caption reflektif membuka peluang bagi guru yang merasa kesulitan menulis panjang. Publikasi memberi rasa dilihat dan diakui, sebuah kebutuhan psikologis yang sering terabaikan. Ketika tulisan dibaca, dikomentari, atau dibagikan, guru merasakan bahwa suara mereka memiliki arti dan dampak.
Workshop menulis kreatif yang ringan dan interaktif melengkapi upaya ini. Bayangkan sesi santai di mana guru menulis sambil minum kopi, saling membaca tulisan, dan memberi apresiasi tanpa menghakimi.
Teknik sederhana seperti menulis sepuluh menit tanpa berhenti, mengubah curhat menjadi cerita, atau menggunakan foto sebagai pemicu narasi dapat memecah kebekuan. Melibatkan guru muda sebagai fasilitator menciptakan dinamika horizontal yang egaliter, jauh dari kesan hierarkis yang kerap mengekang kreativitas.
Dalam suasana seperti ini, menulis tidak lagi menakutkan, melainkan menjadi aktivitas kolektif yang menyenangkan.
Perlahan namun pasti, perubahan mulai terasa. Dari yang semula takut menulis, guru bertransformasi menjadi individu yang merindukan momen bersama kata-kata. Kebiasaan menulis yang konsisten tumbuh karena mereka menemukan kepuasan batin di dalamnya.
Peningkatan literasi dan kreativitas pun mengikuti, tercermin dari kemampuan berargumen yang lebih tajam, narasi yang lebih hidup, dan penguasaan bahasa yang kian matang. Kepercayaan diri terbangun seiring tulisan dibaca oleh rekan, orang tua, bahkan kepala sekolah. Setiap apresiasi, sekecil apa pun, menjadi bahan bakar untuk terus berkarya.
Dampak tak langsungnya menyentuh siswa. Kegiatan belajar mengajar menjadi lebih kaya dengan narasi menarik dan contoh nyata dari pengalaman guru. Budaya menulis menular ke ruang kelas melalui jurnal reflektif, blog kelas, atau konten edukasi yang dibuat bersama.
Siswa melihat bahwa menulis bukan sekadar tugas sekolah, melainkan cara bermakna untuk memahami diri dan dunia. Sebuah kutipan inspiratif menggambarkan transformasi ini dengan indah: “Ketika guru berani menulis, mereka tidak hanya mencatat pengalaman—mereka sedang menulis masa depan pendidikan yang lebih manusiawi.”
Pada akhirnya, menulis bukanlah bakat langka yang hanya dimiliki segelintir orang terpilih. Ia lebih menyerupai napas yang tertunda, selalu ada namun menunggu disadari. Bagi guru, menulis adalah cara sederhana namun kuat untuk berkata, “Aku ada. Aku peduli.”
Di tengah hiruk-pikuk kebijakan dan tuntutan zaman, kata-kata memiliki kekuatan untuk mengubah dunia, dimulai dari kelas kecil tempat interaksi manusia berlangsung setiap hari. Ketika guru menemukan rumah bagi tulisan mereka, pendidikan pun menemukan kembali wajahnya yang hangat dan penuh makna.
Penulis : Djoko Saputra, S. Pd, Guru Produktif TKR SMK Negeri 10 Semarang
Sumber: https//smk10semarang.sch.id






