OPINI: MEMBUMIKAN KOTA FILANTROPI DARI MAKASSAR
Di balik trofi tersebut, tersirat sebuah pesan penting: keberhasilan sebuah daerah kini tidak hanya diukur dari megahnya infrastruktur fisik atau tingginya pertumbuhan ekonomi, melainkan dari seberapa kuat jaring pengaman sosial dan kesadaran gotong royong warga kotanya.
Di tengah dinamika perekonomian perkotaan yang rentan terhadap ketimpangan, zakat, infak, dan sedekah menghadirkan solusi struktural berbasis solidaritas kemanusiaan.
Dalam konteks ini, langkah Pemkot Makassar mengintegrasikan kebijakan tata kelola zakat mulai dari pelibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) hingga penguatan regulasi lokal merupakan terobosan strategis.
Zakat tidak lagi dipandang semata sebagai kewajiban ritual keagamaan individu, melainkan ditransformasikan menjadi instrumen pembangunan daerah yang inklusif.
Namun, kunci utama dari efektivitas pengelolaan zakat terletak pada satu hal: kepercayaan publik (public trust). BAZNAS bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan niat tulus muzaki dengan kebutuhan nyata mustahik.
Ketika kepercayaan itu terbangun, potensi filantropi Islam yang sangat besar di Makassar dapat terakumulasi secara optimal.
Langkah Wali Kota Makassar mendorong digitalisasi dan keterbukaan tata kelola di BAZNAS adalah respons yang tepat terhadap tantangan zaman.
Di era modern, akuntabilitas berbasis teknologi bukan lagi opsi, melainkan keharusan.
Dengan sistem pengelolaan yang transparan, publik dapat melacak dampak nyata dari setiap rupiah yang disalurkan baik untuk pengentasan kemiskinan, beasiswa pendidikan, maupun pemberdayaan ekonomi UMKM.
Gagasan besar mentransformasikan Makassar menuju Kota Filantropi Nasional memberikan arah baru bagi kepemimpinan daerah.
Membangun ekosistem filantropi yang kokoh membutuhkan kolaborasi empat pilar: pemerintah daerah, lembaga pengelola zakat, dunia usaha, dan masyarakat luas.
Jika sinergi ini berjalan konsisten, Makassar dapat menjadi model nasional dalam hal ketahanan sosial berbasis kearifan lokal dan solidaritas keagamaan.
Capaian di ajang Grand Baznas Award 2026 hendaknya tidak membuat Pemkot Makassar cepat berpuas diri.
Justru, penghargaan ini harus dijadikan pemantik untuk terus memperbaiki tata kelola, memperluas jangkauan penerima manfaat, dan memastikan tak ada warga Makassar yang tertinggal di tengah laju modernisasi kota.
Membangun kota yang maju itu penting, tetapi memastikan kota tersebut memiliki martabat dan empati sosial yang tinggi adalah pencapaian yang sejati.
-------------------
Penulis: Rusli Rifar, S.Sos (Pemred Berita Online Sulawesi.Com, Mahasiswa Pasca Sarjana)



